Mantan aktifis gerakan radikal, Ali Fauzi, M. Pd., yang saat ini tergabung dalam Tim Ahli Badan Nasional Penanggulangan Terorisme mengatakan, radikalisme/terorisme bukan produk dan keputusan yang single dari para aktifisnya. Tetapi merupakan hasil dari proses dialektika yang perlahan-lahan mendorong seseorang berkomitmen melaksanakan aksi kekerasan atau teror. Berdasarkan hasil riset, terorisme berpijak pada prinsip, insip, terus memperluas jaringan pertemenan tanpa batas negara, sehingga tanpa ada upaya penanggulangan yang komprehensip, maka jaringan terorisme akan semakin membesar. Sementara memberantas gerakan radikal/terorisme dengan memberangus para aktifisnya, tidak akan pernah berhasil, Karena pemberangusan justru akan memicu dendam yang berkepanjangan dari para aktifisnya dan akan memicu kejahatan-kejahatan lain. Karena mereka memiliki prinsip yang telah mengakar pada para aktifisnya, yakni, hilang satu tumbuh seribu.
Demikian antara lain dipaparkan Ali Fauzi dalam forum Dialog terbuka bersama Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, yang diselenggarakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bekerjasama dengan UIN Sunan Kalijaga, bertempat di Gedung Multipurpose, kampus setempat, Kamis, 11 Desember 2014. Selain Ali Fauzi, forum ini juga menghadirkan nara sumber antara lain : Prof. Dr. Irfan Idris, MA., (Direktur Deradikalisasi BNPT) menyampaikan makalahnya Kebijakan dan Strategi Pencegahan Terorisme, Prof. Dr. H. Khoiruddin, MA. (Direktur Program Pascasarjan UIN Sunan Kalijaga) menyamnpaikan makalahnya : Analisis Potensi Berkembangnya Pahan Radikal Terorisme di UIN Sunan Kalijaga dan Masyarakat Sekitarnya, serta Cara-Cara Pencegahannya, Ali Fauzi sendiri menyampaikan makalahnya Sejarah, Ideologi, Perkembangan, Pola Rekrutmen Kelompok Terorisme, serta Pencegahannya di perguruan Tinggi, KH. Abdul Muhaimin (Ketua FKPT Propinsi DIY) menyampaikan makalahnya Langkah Strategis dan Praktis dalam Menciptakan Komunitas yang Damai dan Terbebas dari Pengaruh Kelompok Radikal Terorisme.
Lebih lanjut Ali Fauzi memaparakan, sebelum bergabung dalam tim BNPT menjadi peneliti bom dan terorisme. ketika masih menjadi anggota kelompok aktifis radikal, dirinya telah banyak belajar dalam rangka membekali diri menjadi teroris. Antara lain : Bagaimana mengendalikan senjata ke Amerika dan Rusia dan Australia, belajar metode/taktik perang, perakitan bom, mengenali bahan baku dan memahami karakter bom dari bahan baku. memahami titik-titik kelemahan manusia, faham terorisme yang antara lain memiliki prinsip bahwa teroris tidak perbah mati dan masih banyak lagi yang dipelajarinya sehingga bisa dikatakan kemampuannya dalam beberapa hal melebihi kemampuan aparat kepolisian maupun TNI.
Memahami Karekteristik gerakan radikal, menurut Ali Fauzi, pemicu semakin merebaknya gerakan radikal/terorisme diantaranya adalah kekecewaan terhadap penyelenggaraan negara/pemerintahan, kesenjangan dan ketidak adilan, ketidakberdayaan dan sebagainya. Sementara Perkembangan gerakan radikal/terorisme tidak akan mampu ditangkal hanya dari upaya lembaga kepolisian dan TNI, tetapi melalui peran serta seluruh lapisan masyarakat Indonesia, didukung penerapan strategi Pemerintah yang tepat, kebijakan dan tepat sasaran, serta kajian pendekatan yang komprehensip (pendidikan yang adil dan merata, dialog yang terus menerus, merangkul dengan lembut, menyalurkan keahlian para aktifis gerakan radikal untuk tujuan yang konstruktif dan sebagainya, papar Ali Fauzi).
Sementara itu, Ketua Kelompok Kerja Program Nasional Pencegahan Terorisme Terorisme BNPT, Prof. Nazarudin Umar mengungkapkan, keberadaan UIN sangat penting dalam upaya melenyapkan penganut pahan radikal yang ingin menggulingkan negara. “UIN seperti sebuah menara yang ingin dimanfaatkan penganut radikal untuk melebarkan sayap pahan yang dianutnya. Maka dari itu, dalam kesempatan ini kita ajak dialog para mahasiswa agar tidak mudah terpengaruh dengan paham-paham radikal” ujar Nazarudin, seusai berdialog dengan mahasiswa.
Dalam kesempatan tersebut Nazarudin juga menjabatkan, mengenai paham Iskamic State in Iraq and Syria (ISIS). Menurut dia, sangat keliru apabila mahasiswa dengan begitu saja ikut mendukung paham itu atas nama Islam. Alasannya menurut dia, ISIS bukan paham perjuangan untuk membela Islam. Justru faktor geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang ditekankan pada paham ini. “Jadi ISIS itu sebenarnya bukan upaya untuk memperjuangan Islam. Tetapi lebih membunuh Islam itu sendiri,” terang dia.
Sebagai pengungkapan faktanya, Nazarudin memberikan penekanan mengenai perjuangan rakyat Palestina dalam menghadapi gempuran Zionis Israel. Selama ini, ISIS tak pernah mengaum untuk membela rakyat Palestina dari kekejaman Israel. ISIS tak pernah ikut memperjuangan kemerdekaan Palestina. Jadi ISIS tidak bisa dikatakan membela Islam.
Sementara PBPT yang diwakili Irfan Idris, dalam tekatnya akan terus mencegah adanya syiar-syiar yang bersifat ekstrem. Lembaga Pemerintah ini juga menyorot keras ceramah-ceramah yang kedengarannya sampai berdarah-darah demi tujuan menarik simpati masyarakat. Pihaknya yakin, ceramah modelyang demikian saat ini tak lagi relevan dan tak akan mendapat simpati masyarakat. Masyarakat justru lebih senang dialog secara halus, yang penting ajaran Islam tertanam dalam hati, tak perlu berlebihan dan memaksakan sesuatu.
Sementara Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Dr. H. Maksudin menambahkan, pihaknya akan memproteksi mahasiswa dari jangkauan faham-faham radikal. Maksudin menuturkan, Islam adalah ajaran yang identik dengan kelembutan dan mengutuk kekerasan. Seperti halnya penyebaran Islam di tanah Jawa yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga yang menggunakan metode keramahan, itulah Islam yang sebenarnya. Islam itu santun, lembut, papar Maksuddin. (Weni Hidayati-Humas UIN Sunan Kalijaga).
WWW.UIN-SUKA.AC.ID
Komentar
Posting Komentar